ASAMMANIS.NEWS – Ambon – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi yang terus membentuk cara hidup generasi muda, Pemerintah Kota Ambon mengingatkan pentingnya menjaga akar budaya sebagai benteng utama pembentukan karakter anak bangsa.
Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisuta, saat membuka Pagelaran Seni SD Negeri 2 Ambon bertajuk Mutiara Manise di Gedung Taman Budaya Karang Panjang, Kamis (11/6/2026).
Di hadapan para siswa, guru, dan orang tua, Ely menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun hanya dengan kecerdasan akademik dan penguasaan teknologi. Generasi masa depan juga harus tumbuh dengan identitas yang kuat, memahami asal-usul budayanya, dan memiliki karakter yang kokoh.
“Kalau anak-anak kita hebat secara teknologi tetapi kehilangan budaya, maka kita sedang membangun generasi tanpa arah,” menjadi pesan utama yang tercermin dalam sambutannya.
Menurut Ely, sekolah tidak boleh hanya menjadi ruang mengejar nilai dan prestasi akademik. Pendidikan harus menjadi tempat lahirnya generasi yang kreatif, berkarakter, dan mencintai lingkungan sosial serta warisan budayanya.
Ia menilai siswa sekolah dasar hari ini merupakan calon pemimpin Indonesia pada tahun 2045. Karena itu, investasi terbesar yang harus dilakukan sejak sekarang adalah menanamkan nilai, etika, dan kecintaan terhadap budaya lokal melalui pengalaman nyata dalam dunia pendidikan.
Pagelaran Seni Mutiara Manise pun menjadi panggung pembelajaran yang hidup. Beragam penampilan tarian tradisional, musik daerah, drama musikal, permainan rakyat, hingga pameran karya seni ditampilkan langsung oleh siswa sebagai bentuk pengenalan sekaligus upaya menghidupkan kembali warisan budaya Maluku.
Ely menegaskan, tema Mutiara Manise bukan sekadar nama kegiatan, melainkan simbol kekayaan budaya Maluku yang harus terus dijaga dan diwariskan lintas generasi. Tradisi, adat istiadat, seni, dan nilai-nilai lokal merupakan identitas yang tidak boleh terkikis oleh perkembangan zaman.
Di saat yang sama, ia juga menyoroti tantangan sosial yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, mulai dari pengaruh negatif media sosial, pergaulan bebas, hingga menurunnya interaksi sosial akibat perubahan pola hidup digital.
Karena itu, menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah. Dibutuhkan kolaborasi erat antara orang tua, guru, dan masyarakat agar anak-anak memiliki ruang tumbuh yang sehat dan tetap berpijak pada nilai budaya.
Pada kesempatan tersebut, Ely memberikan apresiasi kepada SD Negeri 2 Ambon, para guru, komite sekolah, dan seluruh orang tua yang telah menghadirkan ruang ekspresi bagi siswa melalui seni dan budaya.
Sementara itu, Ketua Panitia, Lince Simon, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberi ruang bagi siswa mengekspresikan bakat sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Maluku sejak usia dini.
Pagelaran Seni Mutiara Manise akhirnya bukan sekadar pertunjukan sekolah. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah kemajuan teknologi, budaya tetap harus hidup—karena dari sanalah karakter, identitas, dan masa depan generasi dibangun. (AM.N-MS)

















