ASAMMANIS.NEWS – AMBON, MALUKU – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon mencatat 212 kasus HIV baru sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut disampaikan Kepala Dinkes Kota Ambon, Johan Stefanus Norimana, kepada tim Media Center, Senin (21/9/26).
Johan menjelaskan, jumlah tersebut merupakan kasus baru yang ditemukan selama delapan bulan pertama 2026. Sebagai pembanding, sepanjang 2025 tercatat sebanyak 324 kasus HIV.
Namun, menurut Johan, meningkatnya jumlah kasus yang terdeteksi tidak serta-merta menunjukkan kondisi yang semakin buruk. Justru, temuan tersebut menunjukkan upaya deteksi dini dan penjangkauan masyarakat yang semakin berjalan.
“Sebenarnya lebih banyak ditemukan kasus itu lebih baik. Kalau tidak ketemu, itu yang berbahaya. Karena kalau ketemu, ada pengobatan, ada edukasi, dan sebagainya,” ujarnya.
Ia mengatakan, meningkatnya temuan kasus juga tidak terlepas dari kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan. Selain itu, dukungan berbagai pihak, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pendamping, turut membantu menjangkau orang dengan HIV agar mendapatkan pemeriksaan dan layanan kesehatan.
Johan juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma dan diskriminasi kepada orang dengan HIV.
Menurutnya, orang dengan HIV bukanlah musuh dan tidak semua kasus dapat dikaitkan dengan perilaku tertentu.
“Orang dengan HIV itu bukan musuh. Tidak semua orang penyebabnya karena perilaku, bisa jadi pola hidup dan sebagainya. Walaupun mereka sakit, kita tetap bisa menjangkau mereka,” katanya.
Ia menegaskan, HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak menjauhi atau mendiskriminasi orang dengan HIV, melainkan memberikan dukungan agar mereka tetap dapat menjalani kehidupan secara produktif.
Sementara terkait asal daerah pasien, Johan menyebut Dinkes Kota Ambon masih melakukan pendataan. Namun, ia memastikan setiap orang yang dinyatakan positif HIV dan memperoleh pelayanan kesehatan di Kota Ambon tetap akan ditangani tanpa membedakan apakah yang bersangkutan warga lokal maupun pendatang.
“Mau warga pendatang atau tidak, tetap kami layani, karena risikonya besar,” pungkasnya. (AM)


















