ASAMMANIS.NEWS – Ambon – Menjaga Indonesia bukan hanya tentang mencintai bangsa, tetapi juga tentang memahami sejarah, berpikir kritis, menghargai demokrasi, dan berani mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Gagasan tersebut mengemuka dalam ASSA Podcast Episode 16 bertajuk “Bersama Menjaga Indonesia”, yang menghadirkan Martin Kisna dan Fransiskus Giang.
Martin Kisna menegaskan pentingnya memahami sejarah sebagai fondasi dalam merawat persatuan. Indonesia lahir dari kesepakatan bersama di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan kepentingan. Dalam keragaman itu, Pancasila menjadi titik temu sekaligus fondasi yang mempersatukan bangsa.
Karena itu, nilai-nilai kebangsaan perlu terus diwariskan kepada generasi muda. Perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun Indonesia secara bersama-sama.
Namun, semangat kebangsaan saja tidak cukup. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan memilah informasi secara objektif.
Fransiskus Giang menekankan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk masyarakat yang rasional, kritis, dan tidak mudah terprovokasi. Informasi yang beredar di ruang digital harus diverifikasi sebelum dipercaya dan disebarluaskan. Demikian pula, setiap gerakan sosial perlu dipahami latar belakang, tujuan, serta dampaknya agar masyarakat tidak sekadar ikut arus.
Demokrasi pun membutuhkan kedewasaan. Kritik terhadap pemerintah merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokratis. Namun, kritik idealnya dibangun dengan argumentasi yang kuat, tuntutan yang jelas, serta menawarkan alternatif atau solusi.
Dialog, audiensi, dan diskusi publik dapat menjadi ruang untuk memperjuangkan gagasan secara konstruktif sebelum memilih demonstrasi sebagai jalan penyampaian aspirasi. Sebaliknya, kekerasan, perusakan, dan penjarahan tidak dapat dibenarkan sebagai bentuk perjuangan demokrasi.
Lebih dari itu, pemikiran kritis harus diarahkan pada kemampuan menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
Martin menyoroti ketahanan pangan dan pemenuhan gizi sebagai fondasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sementara Fransiskus menekankan pentingnya pemerataan akses pendidikan, perbaikan distribusi pangan, serta penguatan kemandirian teknologi.
Pesan yang muncul menjadi jelas: kemajuan Indonesia tidak semata-mata bergantung pada kebijakan pemerintah. Masa depan bangsa juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, kecerdasan masyarakat dalam membaca persoalan, serta kemauan untuk bekerja bersama mencari solusi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, menjaga Indonesia adalah kerja lintas generasi. Pengalaman generasi terdahulu perlu bertemu dengan kreativitas, keberanian, dan gagasan segar generasi muda.
Sejarah menjadi pijakan.
Pemikiran kritis menjadi kompas.
Demokrasi menjadi ruang perjuangan.
Kolaborasi menjadi kekuatan.
Dari sanalah Indonesia dapat terus dijaga, dirawat, dan dibawa menuju cita-cita Indonesia Emas 2045. (***)




















