ASAMMANIS.NEWS – BOGOR – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan sektor energi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda swasembada energi yang menjadi bagian dari Asta Cita pemerintahan Prabowo Subianto. Hal tersebut disampaikan dalam Apel Komandan Satuan TNI Tahun 2026 di Bogor, Rabu (29/4).
Dalam arahannya, Bahlil menyebut Indonesia saat ini dinilai sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di dunia, di tengah tekanan geopolitik global yang memengaruhi stabilitas pasokan energi.
“Di tengah kondisi geopolitik yang melahirkan ketidakpastian terhadap pasokan energi global, kita patut bersyukur. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia dinilai menjadi negara terbaik kedua di dunia dalam ketahanan energi,” ujar Bahlil.
Penilaian tersebut merujuk pada laporan Eye on the Market yang dirilis JP Morgan Asset Management. Laporan itu menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang mencakup sekitar 82 persen konsumsi energi dunia. Indonesia berada di posisi kedua, di bawah Afrika Selatan dan di atas Tiongkok.
Menurut Bahlil, posisi tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menghadapi krisis energi global. Hal ini didukung oleh produksi minyak dan gas bumi (migas) domestik, cadangan batubara yang memadai, serta potensi energi baru dan terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah.
Dari subsektor migas, ketahanan energi nasional turut ditopang capaian lifting minyak tahun 2025 yang mencapai target APBN sebesar 605 ribu barel per hari (bph). Pada 2026, target tersebut ditingkatkan menjadi 610 ribu bph.
Pemerintah juga terus mendorong peningkatan produksi melalui optimalisasi teknologi, reaktivasi sumur idle, serta eksplorasi wilayah baru, khususnya di Indonesia Timur.
Salah satu temuan terbaru berasal dari sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kalimantan Timur. Eksplorasi tersebut menemukan potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) serta 300 juta barel kondensat di wilayah kerja yang dioperasikan ENI dan Sinopec.
“Temuan ini diperkirakan mulai berproduksi pada 2028 hingga 2029 dan akan memperkuat pasokan energi nasional,” kata Bahlil.
Selain peningkatan produksi, pemerintah juga fokus menekan impor energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM). Salah satu langkah strategis adalah pengembangan biodiesel hingga campuran 50 persen (B50) yang ditargetkan mulai diterapkan secara nasional pada 1 Juli 2026.
Bahlil menyebut, dengan implementasi B40 dan B50, Indonesia berpotensi tidak lagi mengimpor solar pada tahun 2026.
“Kebutuhan solar kita sekitar 40 juta kiloliter per tahun. Dengan program ini, mulai 2026 kita tidak lagi impor solar,” ujarnya.
Upaya pengurangan impor juga menyasar LPG melalui pengembangan energi substitusi seperti Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG). CNG sendiri telah dimanfaatkan di berbagai sektor, termasuk industri perhotelan, restoran, serta Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), dengan sumber bahan baku dari dalam negeri.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis kemandirian energi nasional dapat tercapai sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global. AM.N-SBR


















