ASAMMANIS.NEWS – AMBON – Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menegaskan, pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub tidak sekadar menghadirkan pelabuhan penyeberangan atau tempat singgah, tetapi dirancang sebagai kawasan industri dan logistik terpadu yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Hendrik usai menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Provinsi Maluku bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, jajaran Deputi, serta perwakilan Bank Dunia di Kantor Kementerian Bappenas, Jakarta, Selasa (11/08/26).
Menurut Hendrik, pelabuhan dalam konsep Maluku Integrated Logistic Hub merupakan core infrastructure atau infrastruktur utama dari sebuah kawasan ekonomi yang lebih luas.
“Bagi Maluku, ini bukan semata-mata pelabuhan. Ini adalah pembangunan kawasan, di mana pelabuhan integrasi itu menjadi core infrastructure atau infrastruktur utamanya,” tegas Hendrik usai rapat koordinasi tersebut.
Dalam rapat tersebut, Gubernur Maluku didampingi Kepala Bappeda Provinsi Maluku Anton Lailossa serta Kepala Badan Penghubung Maluku di Jakarta, S.I. Patta.
Hendrik menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat dan lembaga internasional yang telah memberikan perhatian terhadap rencana pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub.
“Bagi Maluku, pemerintah dan rakyat Maluku, kami mengapresiasi perhatian pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Bappenas dan kementerian teknis lainnya. Kami juga mengapresiasi partisipasi Bank Dunia dan lembaga-lembaga lain yang berminat untuk membantu pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub ini,” ujar Gubernur.
Jadi Penggerak Utama Ekonomi
Hendrik menempatkan Maluku Integrated Logistic Hub sebagai prime economic mover atau penggerak utama ekonomi daerah, berdampingan dengan proyek strategis lainnya seperti Blok Masela.
Menurutnya, apabila kedua proyek besar tersebut dapat direalisasikan, maka akan membuka peluang besar bagi transformasi ekonomi Maluku menuju daerah yang lebih maju dan sejahtera.
“Bagi Pemerintah Provinsi Maluku, Maluku Integrated Logistic Hub ini menjadi semacam penggerak utama ekonomi (prime economic mover), sama seperti Blok Masela. Dengan adanya dua proyek besar ini yang terealisasi di Maluku, maka diharapkan transformasi Maluku menuju Maluku yang lebih maju dan sejahtera dapat tercapai,” ungkapnya.
Selain memperkuat konektivitas dan meningkatkan efisiensi rantai pasok logistik, pembangunan kawasan tersebut juga diproyeksikan memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Hendrik menyebut, sekitar 5.000 hingga 6.000 tenaga kerja baru berpotensi terserap melalui pembangunan infrastruktur pelabuhan maupun perkembangan kawasan ekonomi di sekitarnya.
“Pembangunan infrastruktur pelabuhan dan kawasan ini akan menyerap tenaga kerja yang banyak. Ada sekitar 5.000 hingga 6.000 tenaga kerja baru yang diserap, karena ini bukan sekadar pelabuhan, tetapi kawasan ekonomi sekitarnya juga turut berkembang,” sebutnya.
Bappenas Rekomendasikan Penelitian Segera
Dengan dukungan dan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Maluku, Bappenas, Bank Dunia serta lembaga terkait lainnya, Hendrik optimistis pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di kesempatan yang sama, Kepala Bappeda Maluku Anton Lailossa menambahkan bahwa Bappenas telah memberikan rekomendasi kepada Bank Dunia untuk segera memulai berbagai penelitian terkait rencana pembangunan Maluku Integrated Logistic Hub.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mematangkan rencana pembangunan kawasan, sehingga konsep Maluku Integrated Logistic Hub dapat dikembangkan secara terukur dan sesuai dengan kebutuhan serta potensi ekonomi Maluku. (AM.N-MS)


















