ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Direktur POLAM Indonesia, Abubakar Karepesina, mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam mendorong percepatan transisi energi bersih di kawasan ASEAN. Dukungan tersebut disampaikan menyusul pembahasan penguatan kerja sama energi dalam Forum KTT ASEAN di Filipina.
Menurut Abubakar, komitmen pemerintah untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), merupakan langkah strategis yang akan membawa dampak besar bagi pemerataan akses energi nasional, terutama di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Ia menilai rencana percepatan pembangunan PLTS berkapasitas 100 gigawatt (GW) akan menjadi tonggak penting dalam transformasi sektor energi Indonesia. Dengan kapasitas tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas akses listrik bersih hingga ke daerah-daerah yang selama ini masih mengalami keterbatasan pasokan energi.
Secara teknis, kapasitas 100 GW PLTS merupakan angka yang sangat besar dalam sistem ketenagalistrikan nasional. Dengan asumsi faktor kapasitas PLTS di Indonesia berada pada kisaran 15–20 persen, maka pembangkit tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 130 hingga 175 terawatt hour (TWh) listrik per tahun.
Produksi listrik sebesar itu diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 70 juta hingga 120 juta rumah tangga, tergantung tingkat konsumsi listrik masing-masing rumah. Dengan rata-rata konsumsi rumah tangga sederhana di Indonesia berkisar 100–150 kWh per bulan, maka 100 GW PLTS secara teoritis mampu menjangkau sekitar 100 juta kepala keluarga pengguna listrik berkapasitas normal.
“Program percepatan 100 GW PLTS yang didorong Presiden Prabowo akan mengubah wajah daerah perbatasan dan wilayah 3T. Dengan kapasitas sebesar itu, diperkirakan dapat menjangkau sekitar 100 juta kepala rumah tangga dengan kapasitas penggunaan listrik normal,” ujar Abubakar.
Ia menambahkan, pengembangan PLTS tidak hanya berdampak pada peningkatan rasio elektrifikasi nasional, tetapi juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, memperkuat pelayanan publik, serta membuka peluang investasi dan lapangan kerja baru di sektor energi hijau.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar karena berada di wilayah tropis dengan intensitas matahari yang tinggi sepanjang tahun. Karena itu, percepatan pembangunan PLTS dinilai menjadi langkah tepat untuk mendukung ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon nasional.
Abubakar berharap sinergi pemerintah pusat, pelaku industri, dan negara-negara ASEAN dapat mempercepat realisasi energi bersih yang inklusif dan berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat hingga ke pelosok negeri. (AM.N-SBR)



















