ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot memimpin ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama (TMPNU) Kalibata, Jakarta, dalam rangka memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81.
Ziarah tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa dan kontribusi para mantan Menteri Pertambangan dan Energi sekaligus menegaskan pentingnya keberlanjutan kebijakan dalam pengelolaan sektor energi nasional.
Usai kegiatan, Selasa (29/9), Yuliot mengatakan ziarah ke makam para pendahulu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Pertambangan dan Energi yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap para tokoh yang telah berkontribusi dalam pembangunan sektor energi Indonesia.
> “Hari ini kita memperingati Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-81. Jadi seperti tahun lalu, kita melakukan ziarah ke makam para menteri yang dimakamkan di sini. Alhamdulillah, kegiatan itu berjalan lancar,” ujar Yuliot di Jakarta.
Menurut Yuliot, para Menteri Pertambangan dan Energi terdahulu tidak hanya meninggalkan catatan sejarah, tetapi juga berbagai kebijakan dan pekerjaan yang masih relevan untuk dilanjutkan oleh generasi saat ini.
> “Dari menteri-menteri tersebut, cukup banyak yang meninggalkan warisan dan juga pekerjaan-pekerjaan yang perlu diteruskan,” katanya.
Warisan Kebijakan Para Pendahulu
Yuliot menjelaskan, pembangunan sektor pertambangan dan energi Indonesia berlangsung melalui proses yang panjang dan bertahap. Pengelolaan sumber daya energi pada awalnya banyak bertumpu pada sektor minyak dan gas bumi (migas), kemudian berkembang mencakup batu bara hingga mineral.
Menurut dia, setiap Menteri Pertambangan dan Energi memiliki kontribusi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan pada masa kepemimpinannya.
Salah satu tokoh yang disebut Yuliot adalah Subroto, yang menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi pada 1978–1988. Yuliot menilai Subroto memiliki peran penting dalam meletakkan sejumlah fondasi kebijakan yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan kelembagaan sektor ESDM.
> “Seperti Pak Subroto, beliau justru banyak meletakkan dasar-dasar kebijakan yang ada di Kementerian ESDM,” ungkapnya.
Yuliot menyebut setidaknya tiga warisan penting dari Subroto, yakni pembinaan organisasi kementerian, penguatan peran dan penguasaan negara atas sumber daya alam, khususnya migas, serta program penghematan energi.
Kiprah Subroto juga tidak hanya tercatat dalam pembangunan sektor energi nasional. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Subsidi Energi Tepat Sasaran
Dalam kesempatan tersebut, Yuliot juga menyinggung sejarah kebijakan subsidi energi. Ia menyebut kebijakan subsidi dengan mekanisme yang berbeda untuk setiap komoditas telah diterapkan pada periode Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh.
Menurut Yuliot, pada masa tersebut terdapat subsidi terbuka untuk bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi tertutup untuk LPG, yang pelaksanaannya disertai dengan mekanisme pengawasan.
> “Jadi subsidi tepat sasaran itu juga sudah dimulai pada zaman Pak Darwin. Inilah yang kita lihat sebagai keberlanjutan kebijakan-kebijakan dari menteri-menteri sebelumnya,” jelas Yuliot.
Memasuki usia ke-81, perjalanan sektor pertambangan dan energi Indonesia terus menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Warisan kebijakan para pendahulu menjadi bagian dari fondasi yang terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan energi saat ini dan masa mendatang. Upaya tersebut mencakup pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan, konservasi energi, serta diversifikasi sumber energi untuk mendukung kepentingan masyarakat dan pembangunan nasional. (AM.N-SBR)


















