ASAMMANIS.NEWS – AMBON – Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus terus menjadi motor perubahan dan mitra strategis pemerintah dalam menjawab berbagai persoalan bangsa. Penegasan itu disampaikannya saat membuka secara resmi Advance Training atau Latihan Kader III (LK III) Tingkat Nasional yang digelar Badan Koordinasi (Badko) HMI Maluku di Gedung Islamic Center Ambon, Sabtu (25/7).
Mengusung tema “Intelegensia HMI: Ikhtiar Menjawab Krisis Multidimensi Menuju Masyarakat Cita”, kegiatan ini diikuti kader-kader terbaik HMI dari berbagai provinsi di Indonesia yang telah lolos seleksi sesuai mekanisme organisasi.
Dalam sambutannya, Hendrik memberikan apresiasi kepada Badko HMI Maluku yang dinilai konsisten menjaga tradisi kaderisasi dan mencetak sumber daya manusia berkualitas. Menurutnya, HMI telah membuktikan eksistensinya sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan tertua yang melahirkan banyak tokoh nasional di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, akademisi, hingga dunia usaha.
“HMI memiliki rekam jejak panjang dalam melahirkan pemimpin bangsa. Karena itu, kaderisasi harus terus diperkuat agar mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Hendrik.
Ia menegaskan, pelaksanaan LK III bukan sekadar agenda organisasi, melainkan investasi strategis untuk mencetak calon pemimpin yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, dan kepemimpinan yang visioner.
Menurut Gubernur, semangat kaderisasi HMI selaras dengan arah pembangunan nasional melalui Asta Cita, yang menitikberatkan pada penguatan kualitas sumber daya manusia, reformasi tata kelola pemerintahan, transformasi digital, serta pembangunan ekonomi yang mandiri dan berkeadilan.
Hendrik juga mengingatkan bahwa pembangunan Maluku tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi kemahasiswaan, untuk menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan.
“HMI harus menjadi mitra strategis pemerintah, melahirkan gagasan-gagasan konstruktif, mengawal kebijakan publik secara kritis namun solutif, serta menghadirkan inovasi yang berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Di hadapan para peserta LK III, Hendrik turut mengajak kader HMI menjadikan Maluku sebagai laboratorium kebangsaan yang mengajarkan pentingnya hidup dalam keberagaman. Ia menekankan bahwa nilai-nilai Pela Gandong dan Siwalima merupakan kearifan lokal yang harus terus dijaga sebagai fondasi persatuan, toleransi, dan perdamaian.
“Maluku telah membuktikan bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun masa depan bersama,” katanya.
Menutup sambutannya, Hendrik berharap seluruh peserta mampu menyerap nilai-nilai kepemimpinan selama pelatihan dan tampil sebagai kader HMI yang berwawasan global, berintegritas, adaptif terhadap perubahan, inovatif, serta siap menjadi pelopor pembangunan bangsa.
Pembukaan LK III Tingkat Nasional tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Maluku dan Kota Ambon, pimpinan DPRD Provinsi Maluku dan Kota Ambon, Wali Kota Ambon, Wakil Wali Kota Tual, pimpinan perguruan tinggi, instansi vertikal, BUMN, BUMD, jajaran KAHMI, pengurus Badko HMI Maluku, para senior HMI, serta peserta Advance Training dari berbagai daerah di Indonesia.
















