ASAMMANIS.NEWS – BANDUNG – Provinsi Jawa Barat kini resmi menjadi pusat perhatian dalam peta ketahanan energi nasional. Sebagai pengelola sistem kelistrikan dengan basis pelanggan terbesar di Indonesia, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat kini melayani lebih dari 18,1 juta pelanggan dengan total daya tersambung mencapai 35.686 MVA.
Tingginya aktivitas ekonomi di wilayah ini menjadikan Jawa Barat sebagai sistem kelistrikan paling kompleks di tanah air.
Namun, di balik kompleksitas tersebut, Jabar berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa dengan realisasi bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) yang menyentuh angka 33 persen.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Minyak dan Gas Bumi, Satya Hangga Yudha Widya Putra, melakukan peninjauan mendalam di Unit Pelaksana Pengatur Distribusi (UP2D) Jawa Barat, belum lama ini.
Fasilitas ini merupakan “otak” yang memantau stabilitas frekuensi dan beban listrik selama 24 jam penuh.
“Kunjungan ini bertujuan memastikan efisiensi layanan dan kesiapan infrastruktur digital dalam mendukung kemandirian energi nasional, sesuai dengan visi Asta Cita pemerintah,” ujar Hangga, dalam pernyataan tertulis, Minggu (18/1/2026).
Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jabar, Krisantus H. Setyawan, menambahkan bahwa UP2D memiliki tanggung jawab besar dalam merespons dinamika permintaan dari sektor industri besar di kawasan Cikarang dan Karawang, serta pertumbuhan transportasi berbasis listrik melalui integrasi teknologi Smart Grid.
Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
Menghadapi target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen, PLN dihadapkan pada tantangan besar yaitu menyeimbangkan kebutuhan energi yang melonjak dengan target dekarbonisasi.
Ade Setiana, Assistant Manager Operasi Distribusi PLN UP2D Jabar, menjelaskan bahwa PLN terus bertransformasi mengelola intermitensi daya.
Hal ini dipicu oleh masifnya penggunaan PLTS Atap oleh pelanggan dan pembangunan infrastruktur pengisian kendaraan listrik (SPKLU) yang kini lebih kompetitif dibanding infrastruktur gas konvensional.
Meski performa sistem kelistrikan Jabar dinilai hampir sempurna, PLN mengakui masih adanya tantangan terkait persepsi masyarakat mengenai Rasio Elektrifikasi di daerah terpencil.
Krisantus menegaskan bahwa PLN berkomitmen memberikan standar keandalan yang sama, baik di pusat Kota Bandung maupun di wilayah pelosok.
Menutup kunjungan tersebut, Hangga menekankan pentingnya implementasi Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 tentang Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional.
“Kunci utama kemandirian energi adalah sinergi antara keekonomian, keamanan pasokan, dan lingkungan,” uarnya.
“Pemerintah mendukung penuh program dedieselisasi untuk mengurangi impor BBM, pastikan transisi energi ini murah dan kompetitif bagi rakyat,” imbuh Hangga.
Dengan penguatan sistem digital dan komitmen pada energi hijau, kata Hangga, Jawa Barat siap mengawal transisi energi nasional menuju masa depan yang berkelanjutan. AM.N-YR


















