ASAMMANIS.NEWS – Langkah Bupati Maluku Tenggara (Malra), M. Thaher Hanubun (MTH), yang mengedepankan strategi “jemput bola” di tengah kebijakan efisiensi berkelanjutan, menuai apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari Zainuddin Uar, politisi asal PKB dan putra daerah Kebut, yang menilai pendekatan tersebut sebagai langkah cerdas dan adaptif dalam menjaga ritme pembangunan daerah.
Dalam keterangannya, Zainuddin Uar menegaskan bahwa kondisi fiskal yang menuntut efisiensi tidak seharusnya menjadi penghambat bagi pemerintah daerah untuk tetap bergerak. Justru sebaliknya, situasi tersebut menuntut kreativitas dan jejaring yang kuat dari seorang kepala daerah.
Sebagai politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), ia secara terbuka menyatakan dukungan terhadap langkah cepat yang diambil Bupati MTH. Menurutnya, keputusan untuk mengaktifkan kembali jejaring dan koneksi strategis merupakan bentuk keberanian sekaligus kecermatan membaca situasi.
“Langkah cepat Bupati MTH patut diapresiasi dan didukung. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi apa pun, pemerintah daerah harus tetap hadir dan proaktif mencari solusi, bukan menunggu,” ujarnya.
Zainuddin menilai, pendekatan jemput bola yang dilakukan tidak hanya mempercepat akses terhadap program dan dukungan dari pemerintah pusat maupun mitra lainnya, tetapi juga mencerminkan kepemimpinan yang progresif dan berorientasi pada hasil.
Ia menambahkan, pengalaman dan relasi yang dimiliki Bupati MTH menjadi modal penting yang kini dimanfaatkan secara optimal. Dalam konteks efisiensi anggaran yang berkelanjutan, kemampuan membangun komunikasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk menjaga kesinambungan pembangunan dan pelayanan publik.
“Di tengah ruang fiskal yang terbatas, kepala daerah dituntut tidak pasif. Apa yang dilakukan Bupati Malra hari ini adalah contoh konkret bagaimana jejaring dan pengalaman masa lalu bisa menjadi kekuatan untuk menjawab tantangan masa kini,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai langkah tersebut patut menjadi rujukan bagi kepala daerah lain di kabupaten dan kota se-Maluku. Dalam situasi yang serupa, dibutuhkan keberanian untuk keluar dari pola kerja konvensional dan mulai mengedepankan pendekatan kolaboratif.
“Ini bisa menjadi model. Kepala daerah lain perlu melihat bahwa membangun koneksi, memperkuat komunikasi, dan aktif menjemput peluang adalah bagian dari solusi, bukan sekadar alternatif,” ucapnya.
Di tengah dinamika kebijakan efisiensi yang terus bergulir, strategi jemput bola yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara menjadi penanda bahwa keterbatasan tidak selalu identik dengan stagnasi.
Sebaliknya, dengan kepemimpinan yang adaptif, ruang-ruang peluang justru dapat dibuka lebih luas untuk kepentingan masyarakat. AM.N-SBR


















