ASAMMANIS.NEWS – BLORA – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul munculnya fenomena semburan lumpur di Kawasan Wisata Geologi Oro-oro Kesongo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Masyarakat diminta tidak mendekati titik semburan, terutama ketika aktivitas semburan sedang berlangsung. Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi potensi material semburan maupun gas yang dapat membahayakan keselamatan.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan pihaknya saat ini tengah mengumpulkan informasi mengenai perkembangan dan intensitas semburan lumpur yang terjadi di kawasan tersebut.
Fenomena yang terjadi di Oro-oro Kesongo disebut memiliki kemiripan secara visual dengan semburan lumpur yang pernah terjadi di kawasan Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, Badan Geologi belum mengambil kesimpulan mengenai kondisi maupun tingkat risikonya sebelum dilakukan pemeriksaan langsung di lapangan.
Lana mengatakan verifikasi lapangan akan segera dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi geologi terkini di lokasi.
“Untuk sementara, masyarakat dan pengunjung diimbau tidak mendekati titik semburan, terutama apabila aktivitas semburan sedang berlangsung, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan petugas setempat,” kata Lana, dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (10/8/2026).
Menurut Lana, Oro-oro Kesongo memang merupakan kawasan yang memiliki karakteristik geologi khas. Salah satunya berupa fenomena keluarnya lumpur dan gas secara alami dari bawah permukaan bumi.
“Secara umum, Oro-oro Kesongo merupakan kawasan yang dikenal memiliki fenomena geologi berupa keluarnya lumpur dan gas dari bawah permukaan. Aktivitas semburan dapat terjadi secara periodik dengan intensitas yang berubah-ubah,” ujarnya.
Badan Geologi hingga kini masih memantau perkembangan aktivitas tersebut. Pemerintah belum dapat memastikan tingkat bahaya dari semburan yang videonya beredar di media sosial karena diperlukan data primer serta hasil observasi langsung di lokasi.
“Terkait tingkat bahaya dan kondisi kejadian yang saat ini beredar di media sosial, kami belum dapat menyimpulkan sebelum memperoleh data dan hasil verifikasi lapangan,” ujar Lana.
Untuk mengantisipasi risiko, pemerintah daerah bersama petugas keamanan setempat diminta melakukan pengawasan terhadap kawasan tersebut. Pengamanan dilakukan agar masyarakat maupun wisatawan tidak memasuki area yang berpotensi menjadi zona berbahaya.
Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan akan menyampaikan perkembangan terbaru kepada masyarakat setelah proses verifikasi, pengujian, dan evaluasi teknis di lapangan selesai dilakukan.
Masyarakat juga diimbau tidak menjadikan informasi yang beredar di media sosial sebagai dasar untuk mendekati lokasi semburan dan tetap mengikuti petunjuk petugas di lapangan. (AM.N-SBR)

















