ASAMMANISNEWS,SAMASURU — Laut di hadapan Negeri Samasuru tampak tenang, Selasa, 29/09/2026. Debur ombak datang silih berganti menyentuh bibir pantai, seolah tak menyisakan jejak dari sebuah tragedi besar yang pernah mengubah wajah pesisir Pulau Seram lebih dari satu abad silam.
Namun, bagi masyarakat Samasuru, laut bukan sekadar bentangan air yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Di balik ketenangannya, tersimpan ingatan tentang kehilangan, perpindahan, dan kisah para leluhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tempat inilah, 127 tahun setelah tragedi yang dikenal masyarakat sebagai “Bahaya Seram”, warga kembali berkumpul.
Dengan suasana khusyuk, masyarakat memenuhi kawasan pesisir untuk melaksanakan ibadah peringatan. Doa-doa dipanjatkan. Pujian dilantunkan. Bunga ditaburkan ke laut.
Bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah cara bagi masyarakat Samasuru untuk berbicara dengan masa lalu—mengenang mereka yang telah pergi sekaligus mengingatkan generasi yang masih hidup tentang rapuhnya kehidupan di tengah alam yang memiliki kekuatan jauh lebih besar dari manusia.
Laut yang Menyimpan Ingatan
Tragedi “Bahaya Seram” terjadi pada 29 September 1899. Gempa bumi tektonik kuat mengguncang Pulau Seram dan memicu tsunami yang menerjang sejumlah kawasan pesisir.
Literatur sejarah Maluku dan catatan seismik historis menyebut peristiwa tersebut sebagai salah satu bencana besar yang pernah mengguncang kawasan Seram. Data historis yang dikaitkan dengan peristiwa itu menunjukkan gempa berkekuatan sekitar magnitudo 7,8, dengan tsunami yang dilaporkan mencapai ketinggian lebih dari sembilan meter di kawasan Teluk Elpaputih.
Gelombang besar tersebut menerjang permukiman dan kawasan pesisir.
Ribuan manusia menjadi korban.
Kehidupan masyarakat berubah dalam sekejap.
Bagi Samasuru, tragedi itu juga meninggalkan kisah tentang kampung lama yang kemudian dipercaya tenggelam dan sebagian wilayah permukimannya bergeser ke kawasan yang kini menjadi bagian dari perairan.
Cerita tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah.
Ia hidup dalam ingatan orang tua, dalam cerita para tetua negeri, dan dalam pengetahuan yang terus disampaikan kepada anak-cucu.
Karena itu, ketika warga berdiri di tepi laut dan menaburkan bunga, yang dilepas ke permukaan air bukan hanya kelopak bunga.
Ada nama-nama yang dikenang.
Ada keluarga yang kehilangan leluhurnya.
Ada kisah yang mungkin tidak pernah tercatat secara lengkap dalam buku sejarah, tetapi tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Doa untuk Mereka yang Telah Pergi
Di tengah rangkaian peringatan, suasana berubah semakin hening.
Warga menundukkan kepala. Doa dipanjatkan untuk para leluhur yang menjadi korban tragedi.
Bagi masyarakat Samasuru, mengenang para leluhur bukan berarti hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Justru sebaliknya, ingatan itu menjadi cara untuk menjaga jati diri sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi.
Para orang tua mengajarkan bahwa sebuah negeri tidak hanya dibangun oleh rumah, jalan dan fasilitas. Negeri juga dibangun oleh ingatan tentang orang-orang yang lebih dahulu membuka kehidupan, menjaga tanah, dan mewariskan nilai kepada generasi setelah mereka.
Karena itu, peringatan “Bahaya Seram” menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan.
Generasi tua datang membawa cerita.
Generasi muda datang untuk mendengar.
Dan laut menjadi saksi ketika keduanya dipertemukan dalam sebuah ritual penghormatan kepada para leluhur.
Ketika Bencana Menjadi Pelajaran
Namun, peringatan 127 tahun “Bahaya Seram” tidak berhenti pada aspek sejarah dan spiritual.
Di balik doa dan tabur bunga, terselip pesan yang jauh lebih penting: bencana harus dikenang agar masyarakat tidak lengah.
Maluku Tengah berada di kawasan tektonik yang kompleks dan memiliki sejarah kegempaan serta tsunami. Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa masyarakat pesisir harus selalu memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana.
Karena itu, ingatan tentang “Bahaya Seram” menjadi semacam alarm yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Anak-anak muda perlu mengetahui bagaimana tsunami terjadi.
Mereka perlu mengenali tanda-tanda alam.
Mereka perlu mengetahui jalur evakuasi.
Dan yang tidak kalah penting, mereka harus memahami bahwa ketika gempa kuat terjadi di wilayah pesisir, keselamatan tidak boleh menunggu datangnya peringatan kedua.
Kearifan lokal dan ilmu kebencanaan kemudian bertemu dalam satu pesan: mengenang masa lalu untuk menyelamatkan masa depan.
Menjaga Ingatan, Menjaga Negeri
Sore perlahan turun.
Rangkaian ibadah dan penghormatan kepada para leluhur pun berakhir. Bunga-bunga yang ditaburkan warga perlahan terbawa arus.
Laut kembali terlihat seperti biasanya.
Tetapi bagi masyarakat Samasuru, hari itu meninggalkan sesuatu yang tidak ikut hanyut bersama air.
Sebuah ingatan.
Sebuah penghormatan.
Dan sebuah pesan untuk anak cucu.
Bahwa mereka pernah kehilangan ribuan manusia dalam sebuah tragedi besar.
Bahwa kampung dan kehidupan dapat berubah hanya dalam hitungan menit.
Dan bahwa manusia harus hidup berdampingan dengan alam, bukan merasa mampu menaklukkannya.
127 tahun telah berlalu sejak “Bahaya Seram”.
Waktu boleh menghapus jejak permukiman lama. Ombak boleh mengubah garis pantai. Generasi boleh berganti.
Namun selama masyarakat masih berkumpul, berdoa dan menaburkan bunga untuk para leluhur, kisah itu belum benar-benar hilang.
Ia tetap hidup di Samasuru.
Hidup dalam doa.
Hidup dalam ingatan.
Dan semestinya, hidup pula dalam kesiapsiagaan setiap generasi untuk menjaga kehidupan yang hari ini masih dipercayakan di tanah Seram.
Dari tepi laut Samasuru, pesan itu kembali disampaikan tanpa banyak kata:
jangan lupakan bencana yang pernah terjadi, karena ingatan adalah salah satu cara manusia belajar untuk menyelamatkan kehidupan.


















