ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak perguruan tinggi di seluruh Indonesia untuk berkolaborasi dalam mempercepat implementasi Program E20, yakni pencampuran bensin dengan 20 persen bioetanol. Selain itu, kampus juga didorong mengambil peran dalam pengembangan kompor listrik sebagai bagian dari transformasi energi nasional.
Bahlil mengatakan, Program E20 menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Untuk merealisasikan program tersebut, pemerintah memperkirakan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter (KL) bioetanol murni setiap tahun, berdasarkan konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 40 juta KL per tahun.
“Saya mengajak pihak-pihak perguruan tinggi bersama berkolaborasi pada Program E20, negara yang akan menjadi opteker (penjamin pasar) untuk beli, karena E20 kita butuh 4 juta kiloliter. Jadi ini bisa kita bikin plasma inti dengan rakyat, ini jauh lebih jelas optekernya negara daripada kita impor dari Amerika atau Eropa,” kata Bahlil saat Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Sabtu (27/6).
Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi sangat dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi pengolahan bahan baku bioetanol berbasis komoditas lokal seperti tebu, singkong, dan jagung. Melalui kolaborasi tersebut, hasil riset akademik diharapkan dapat dihilirisasi menjadi teknologi yang siap diterapkan di tingkat industri dan masyarakat.
Bahlil menjelaskan, pola kemitraan antara perusahaan inti dan plasma rakyat akan menjadi model pengembangan industri bioetanol nasional. Dengan demikian, petani memperoleh kepastian pasar, sementara negara mendapatkan pasokan bioetanol yang berkelanjutan.
Selain Program E20, Kementerian ESDM juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi dalam pengembangan kompor listrik sebagai bagian dari diversifikasi energi rumah tangga. Pemerintah bahkan telah menyiapkan anggaran khusus untuk mendukung program tersebut mulai tahun depan.
“Di Kementerian ESDM tahun 2027 mendatang ada program pengadaan kompor listrik Rp600 miliar dan kampus siapa yang mau bikin langsung akan kita pesan pengadaannya di kampus itu saja,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan, pengembangan kompor listrik, pemanfaatan compressed natural gas (CNG), serta perluasan jaringan gas (jargas) rumah tangga merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat bauran energi sekaligus mengurangi konsumsi energi berbasis impor.
Program E20 dan pengadaan kompor listrik menjadi dua agenda strategis pemerintah yang dirancang secara terintegrasi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri, memperkuat kemandirian energi, serta menghemat devisa negara melalui pengurangan impor bahan bakar. (AM.N-SBR)

















