ASAMMANIS.NEWS – NAGEKEO, NTT – Sepekan berada di pengungsian, Kristian Mauko (46) masih menunggu kepastian tempat tinggal setelah rumahnya di Desa Marapokot, Kabupaten Nagekeo, rusak akibat gempa dan tsunami.
Ayah empat anak yang sehari-hari bekerja sebagai buruh lepas, nelayan, dan tukang itu memilih bertahan di lokasi pengungsian bersama warga lainnya. Menurut Kristian, kerusakan rumah dan kekhawatiran terhadap kondisi pascabencana membuat warga belum berani kembali ke rumah masing-masing.
“Sudah seminggu kami di sini, rumah kami hancur, kena gempa dan tsunami, semua tetangga mengungsi juga ke sini,” kata Kristian.
Kondisi serupa dialami Maria Jomuku (58), warga Tonggu Rambang, Dusun Bandara. Rumah petani yang menghidupi lima anak tersebut mengalami keretakan akibat gempa. Meski kerusakannya tidak tergolong berat, Maria memilih tetap berada di pengungsian karena masih khawatir terhadap gempa susulan dan potensi tsunami.
“Kami mengungsi karena banyak gempa susulan, takut rumah rubuh, takut ada tsunami,” ujar Maria.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah terus memperkuat penanganan masa tanggap darurat, termasuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak tetap terpenuhi.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menemui warga terdampak saat meninjau Lapangan Berdikari, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (26/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Presiden menyampaikan belasungkawa kepada masyarakat yang kehilangan anggota keluarga akibat bencana. Pemerintah, kata Prabowo, terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan sekaligus mengirimkan bantuan dan memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
“Saat ini Pemerintah terus memantau kondisi di lapangan, mengirimkan bantuan, serta menyiapkan berbagai kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat,” ujar Prabowo.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan kesiapan dukungan sektor energi untuk memperkuat penanganan pascabencana.
Salah satu fokus utama adalah memastikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak tetap dapat beroperasi meski pasokan listrik menghadapi kendala.
“Kementerian ESDM akan kirim 48 genset untuk tenda-tenda puskesmas untuk pengobatan, dan mereka tidak ada genset,” kata Bahlil.
Sebanyak 48 unit genset tersebut disiapkan untuk disalurkan ke tujuh kabupaten terdampak. Bantuan tersebut ditujukan terutama untuk mendukung operasional fasilitas kesehatan di lokasi pengungsian dan wilayah terdampak bencana.
Selain dukungan energi, Kementerian ESDM bersama pelaku usaha sektor ESDM juga telah mendirikan sekitar 30 posko tanggap darurat di sejumlah wilayah terdampak NTT.
Posko-posko tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat respons kemanusiaan, termasuk dukungan terhadap layanan kesehatan, kebutuhan logistik, serta penanganan masyarakat di lapangan.
Melalui program ESDM Siaga Bencana, Kementerian ESDM sebelumnya juga telah mengerahkan personel dan bantuan kemanusiaan ke sejumlah wilayah terdampak. Dukungan mencakup pencarian dan pertolongan, layanan kesehatan, hingga pemenuhan kebutuhan logistik masyarakat.
Bagi warga seperti Kristian dan Maria, bantuan di masa tanggap darurat bukan sekadar soal pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Rasa aman, tempat tinggal yang layak, serta kepastian layanan dasar menjadi kebutuhan utama selama mereka masih berada di pengungsian.
Di tengah proses pemulihan, dukungan energi untuk fasilitas kesehatan, distribusi logistik, layanan kemanusiaan, dan penanganan di lapangan menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan dasar hingga kondisi berangsur pulih. (AM.N-SBR)


















