ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Direktur Public Research Institute, Mahmud Alkatiri, mengecam pernyataan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang menyebut kalimat “lebih baik jadi petani” dalam merespons wacana penempatan institusi Polri di bawah kementerian.
Mahmud menilai pernyataan tersebut tidak tepat dan berpotensi merendahkan profesi petani yang selama ini memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan dan perekonomian nasional.
“Petani adalah profesi yang mulia dan sangat penting bagi kehidupan bangsa. Pernyataan Kapolri yang menyebut ‘lebih baik jadi petani’ tidak hanya keliru dalam konteks komunikasi publik, tetapi juga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta tidak menghargai kerja keras para petani,” kata Mahmud dalam keterangannya, 31/01/26.
Menurutnya, sebagai pejabat publik sekaligus pimpinan tertinggi institusi kepolisian, Kapolri semestinya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan ke ruang publik, terlebih yang dapat menimbulkan tafsir negatif di tengah masyarakat.
Mahmud juga menegaskan bahwa fokus utama Kapolri seharusnya adalah menjalankan tugas konstitusional Polri, yakni menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada publik.
“Kapolri seharusnya fokus pada tugas pokok dan fungsinya sebagai kepala kepolisian, bukan melontarkan pernyataan yang berpotensi memicu polemik dan tidak konstruktif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Public Research Institute berharap Kapolri dapat memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan tersebut, serta menunjukkan sikap yang lebih menghargai profesi petani sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.
“Pernyataan ini kami sampaikan agar menjadi perhatian bersama, baik bagi Kapolri maupun pemerintah, untuk lebih menghormati profesi petani dan menjaga etika komunikasi publik,” pungkas Mahmud. AM.N-SBR




















