ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA, 29 Maret 2026 — Pemerintah Indonesia terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan kelancaran serta keamanan pelintasan kapal Indonesia di kawasan Teluk Persia, khususnya saat melintasi Selat Hormuz.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia, menyampaikan bahwa pihaknya secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) serta instansi terkait untuk menjamin keselamatan pelayaran sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.
“Kementerian ESDM terus berkomunikasi dan berkoordinasi secara intensif dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan proses pelintasan kapal Indonesia di Selat Hormuz dapat berjalan aman dan lancar. Dalam proses tersebut, tidak hanya soal muatan, tapi keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama pemerintah,” ujar Anggia di Jakarta, Minggu (29/3).
Sebelumnya, Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyatakan bahwa pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran telah melakukan koordinasi sejak awal dengan otoritas terkait di Iran guna memastikan keamanan kapal dan awaknya.
“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran. Saat ini, hal tersebut tengah ditindaklanjuti oleh pihak-pihak terkait pada aspek teknis dan operasional,” kata Nabyl.
Dari sisi operator, PT Pertamina (Persero) juga menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh pemerintah dalam penanganan situasi ini. Melalui anak usahanya, Pertamina International Shipping (PIS), perusahaan tengah mempersiapkan berbagai aspek teknis dan administratif agar dua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
“Prioritas kami tetap pada keselamatan seluruh awak kapal, serta keamanan kapal dan muatannya. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar proses ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
Untuk menjaga ketahanan pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif melalui diversifikasi sumber energi. Upaya ini dilakukan dengan membuka opsi pasokan minyak mentah dan BBM dari kawasan selain Timur Tengah.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk memperluas sumber impor minyak dari berbagai negara guna menjamin kesinambungan pasokan energi nasional.
Sepanjang 2025, Pertamina tercatat mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen atau 25,36 juta barel berasal dari Arab Saudi. Sementara sisanya dipasok dari berbagai kawasan lain, termasuk Afrika, Amerika Latin, Amerika Serikat, Malaysia, serta sejumlah negara lainnya. Selain itu, Indonesia juga menjalin kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan produk BBM. AM.N-SBR


















