El Nino Sangat Kuat, Seram dan Lease Waspada Kekeringan hingga Awal 2027
ASAMMANISNEWS,MASOHI — Wilayah Pulau Seram dan Kepulauan Lease perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul kondisi musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino kategori sangat kuat.
Koordinator Unit Operasional Stasiun Meteorologi (Stamet) Amahai, Margarita Triono S.Ter. Met yang dikombinasikan, Selasa, 06/10/2026, menyampaikan bahwa kondisi cuaca selama tujuh hari ke depan secara umum diprakirakan berawan hingga berawan tebal.
Meski demikian, kondisi langit yang tampak mendung di sejumlah wilayah tidak selalu menandakan akan terjadi hujan. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Asap karhutla berpotensi menurunkan jarak pandang hingga kurang dari 10 kilometer sekaligus berdampak terhadap kualitas udara.
Menurut Margarita, Pulau Seram dan wilayah Lease saat ini telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena El Nino yang berada pada kategori sangat kuat, sehingga pembentukan awan hujan menjadi lebih sulit dan meningkatkan potensi terjadinya kekeringan.
Perkembangan yang ada menunjukkan fenomena El Niño masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Karena itu, pemerintah daerah bersama masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap berbagai dampak yang dapat ditimbulkan, terutama kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Waspada Karhutla dan Kekeringan
Di sektor kehutanan dan kebencanaan, pemerintah dan masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan karhutla yang dapat meluas selama kondisi El Nino masih berlangsung.
Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar karena aktivitas tersebut berpotensi menjadi pemicu kebakaran yang lebih luas.
Jadwal Tanam Perlu Disesuaikan
Dampak musim kemarau juga perlu diantisipasi pada sektor pangan. Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi ketersediaan air.
Selain itu, penggunaan varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, lebih tahan terhadap kondisi kering, serta memiliki siklus tanam lebih pendek dapat menjadi salah satu langkah adaptasi menghadapi kondisi tersebut.
Ketersediaan Air Harus Dijaga
Pada sektor sumber daya air, pemerintah didorong memastikan ketersediaan air bagi masyarakat melalui revitalisasi waduk dan sarana penyimpanan air.
Perbaikan jaringan distribusi serta pengelolaan sumber daya air juga dinilai penting untuk menjaga pemenuhan kebutuhan masyarakat selama periode kemarau.
Asap Berpotensi Ganggu Kesehatan
Sementara pada sektor lingkungan dan kesehatan, diperlukan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara akibat asap karhutla.
Paparan asap berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara mengalami penurunan.
Nelayan Diminta Pantau Cuaca Laut
Di sektor perikanan dan pelayaran, potensi upwelling dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan produktivitas dan hasil tangkapan ikan.
Nelayan juga dapat memanfaatkan informasi Zona Potensial Penangkapan Ikan (ZPPI) dari BMKG sebagai salah satu bahan pertimbangan sebelum melaut.
Selain itu, nelayan dan pelaku pelayaran lokal diimbau selalu memperhatikan informasi serta pemutakhiran kondisi cuaca laut sebelum melakukan aktivitas di perairan.
Dengan kondisi El Nino yang masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027, kesiapsiagaan lintas sektor dinilai penting agar dampak kekeringan, karhutla, penurunan kualitas udara, hingga gangguan terhadap aktivitas masyarakat dapat diantisipasi sejak dini.



















