ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat pengembangan energi baru, energi terbarukan, dan konservasi energi (EBTKE) sebagai bagian dari strategi besar mewujudkan kemandirian energi nasional di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan rantai pasok energi.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pembukaan IndoEBTKE Convention and Exhibition (ConEx) 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot secara resmi membuka penyelenggaraan IndoEBTKE ConEx ke-12. Setelah sempat vakum selama tiga tahun, forum tersebut kembali menjadi ruang kolaborasi bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, peneliti, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem energi bersih di Indonesia.
Berbagai tantangan pengembangan energi baru dan terbarukan menjadi bagian dari pembahasan, mulai dari regulasi, teknologi, infrastruktur, logistik, pembiayaan, hingga penguatan kapasitas riset dan inovasi nasional.
Yuliot mengatakan pengembangan EBTKE memiliki posisi strategis dalam agenda pembangunan nasional, terutama dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi.
Menurutnya, kondisi geopolitik global dapat memberikan dampak langsung terhadap rantai pasok energi dunia. Gangguan pasokan berpotensi memicu kenaikan harga energi yang kemudian berdampak terhadap inflasi, biaya produksi, serta meningkatnya beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah.
“Energi baru terbarukan merupakan bagian dari program prioritas pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, yaitu memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara, serta mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada energi,” ujar Yuliot.
Target 42,6 Gigawatt Energi Bersih
Dalam memperbesar kontribusi energi bersih terhadap sistem ketenagalistrikan nasional, pemerintah telah menetapkan target ambisius melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Dari sekitar 70 gigawatt tambahan kapasitas pembangkit listrik yang direncanakan dalam periode tersebut, sekitar 42,6 gigawatt atau sekitar 62 persen ditargetkan berasal dari energi baru dan terbarukan.
“Pada RUPTL ini sekitar 62 persen, sekitar 42,6 gigawatt, ini merupakan target kita untuk meningkatkan pasokan energi, khususnya energi baru dan terbarukan,” ungkap Yuliot.
Selain pembangunan pembangkit berbasis energi terbarukan, pemerintah juga terus mendorong diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk implementasi B50.
Langkah konservasi energi juga diperkuat melalui percepatan penggunaan kendaraan listrik, pembangunan jaringan gas, pemanfaatan compressed natural gas (CNG) sebagai salah satu alternatif substitusi LPG, serta peningkatan penggunaan berbagai sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Sampah Perkotaan Didorong Jadi Sumber Energi
Pemerintah juga melihat potensi besar pengembangan energi dari sampah perkotaan melalui teknologi waste to energy.
Berdasarkan data tahun 2025, timbulan sampah nasional mencapai sekitar 52,6 juta ton atau sekitar 145 ribu ton per hari. Namun, baru sekitar 25 persen dari total sampah tersebut yang berhasil dikelola.
Kondisi tersebut dinilai sebagai tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi.
Melalui pengembangan waste to energy, sampah dapat diolah menjadi listrik, biomassa, hingga bahan bakar minyak terbarukan. Selain menghasilkan energi, pengelolaan tersebut juga diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Bangun Rantai Pasok Energi Bersih dari Hulu hingga Hilir
Meski memiliki potensi sumber daya yang besar, pengembangan EBTKE masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam membangun rantai pasok yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Yuliot menekankan pentingnya membangun ekosistem energi baru dan terbarukan secara menyeluruh agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi energi bersih, tetapi juga mampu mengembangkan industri dan teknologi di dalam negeri.
“Yang tidak kalah pentingnya, bagaimana kita membangun ekosistem energi baru terbarukan. Jadi, kita harus melihat rantai pasok yang harus terintegrasi. Kalau ini tidak terintegrasi dari sumber bahan baku, kemudian ada pabrik manufaktur, teknologi, dan sumber daya manusia yang kita integrasikan, tentu rantai pasok ini akan terputus,” lanjutnya.
Indonesia sendiri memiliki sejumlah sumber daya mineral strategis seperti bauksit, nikel, silika, dan tembaga yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri energi bersih.
Berbagai komoditas tersebut memiliki peran penting dalam industri teknologi masa depan, termasuk untuk pengembangan panel surya, baterai kendaraan listrik, sistem penyimpanan energi, dan berbagai teknologi energi bersih lainnya.
Karena itu, pemerintah mendorong penguasaan teknologi, penguatan industri manufaktur nasional, peningkatan riset dan inovasi, serta pengembangan pelaku usaha dalam negeri agar Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai industri energi bersih global.
Melalui IndoEBTKE ConEx 2026, pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, peneliti, dan masyarakat dapat semakin diperkuat untuk mengidentifikasi sekaligus mengatasi berbagai hambatan dalam pengembangan EBTKE.
Penguatan ekosistem energi bersih tersebut pada akhirnya diharapkan tidak hanya meningkatkan bauran energi terbarukan nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi Indonesia dan mendorong kemandirian bangsa menuju visi Indonesia Emas 2045. (AM.N-SBR)


















