JAKARTA — Pemerintah Indonesia mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Berbagai sumber energi alternatif seperti tenaga surya, panas bumi, hingga biomassa dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung transisi menuju energi bersih.
Komitmen tersebut ditegaskan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi. Fokus utama percepatan program ini adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) skala besar serta pengembangan elektrifikasi berbasis energi terbarukan.
Presiden menyatakan bahwa Indonesia menargetkan kemandirian energi dalam beberapa tahun ke depan dengan mengoptimalkan berbagai sumber energi alternatif yang dimiliki.
“Kita sudah punya niat untuk swasembada energi yang kita yakin akan tercapai dalam empat tahun. Target ini tentunya memerlukan upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang kita miliki,” ujar Prabowo dalam acara syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) pertama Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3).
Menurutnya, di tengah meningkatnya ancaman krisis energi global, Indonesia justru memiliki keunggulan karena kaya akan sumber energi alternatif.
Prabowo mencontohkan potensi besar dari komoditas domestik seperti kelapa sawit, singkong, jagung, hingga tebu yang dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif. Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan panas bumi yang termasuk terbesar di dunia namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai langkah konkret untuk memperkuat pasokan energi nasional, Presiden memerintahkan pembangunan PLTS dengan kapasitas mencapai 100 gigawatt (GW).
“Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah keputusan saya dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa Indonesia bisa lebih cepat dan efektif,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa arahan Presiden tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil, khususnya pembangkit listrik berbasis diesel.
“Saat ini pembangkit listrik kita masih menggunakan diesel, sebagian batu bara dan gas. Arahan Bapak Presiden agar kita tidak lagi bergantung pada energi fosil, khususnya diesel, maka kita diarahkan untuk membangun PLTS hingga 100 gigawatt,” kata Bahlil dalam tayangan podcast Kementerian ESDM di Jakarta.
Bahlil menambahkan bahwa pengembangan EBT tidak hanya berfokus pada tenaga surya, tetapi juga akan memanfaatkan potensi energi lain yang dimiliki daerah, seperti panas bumi dan tenaga air.
“Optimalisasi pemanfaatan EBT tidak hanya PLTS, tetapi juga geothermal dan air. Dengan pengembangan pembangkit seperti ini, Indonesia diharapkan tidak lagi bergantung pada energi fosil dari luar negeri,” ujarnya. AM.N-SBR


















