ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi. Ketegangan tersebut berdampak pada meningkatnya risiko gangguan distribusi minyak dunia, terutama di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi internasional.
Sejumlah negara yang selama ini bergantung pada pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah mulai merasakan tekanan akibat potensi terganggunya jalur distribusi tersebut. Namun, kondisi ini disebut berbeda bagi Indonesia.
Pemerintah sebelumnya telah mengantisipasi ketergantungan impor melalui penguatan kapasitas kilang dalam negeri. Salah satu langkah strategis itu adalah pengoperasian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan sejak Januari 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pasokan bahan bakar minyak (BBM) nasional tetap dalam kondisi aman dan terkendali.
Dalam pernyataannya yang dikutip dari flayer Partai Golkar yang beredar, Bahlil menyampaikan bahwa impor bensin dengan RON 90–98 tidak lagi berasal dari kawasan Timur Tengah. Sementara untuk solar (diesel), Indonesia disebut tidak lagi melakukan impor.
“Impor bensin RON 90–98 tidak dari Middle East. Solar sudah selesai. Ini tidak ada masalah,” ujar Bahlil.
Menurutnya, beroperasinya proyek RDMP Balikpapan memperkuat pasokan dalam negeri sekaligus menjadi bantalan strategis di tengah gejolak geopolitik global. Dengan optimalisasi kapasitas kilang nasional, ketahanan energi Indonesia dinilai lebih siap menghadapi dinamika pasar internasional. AM.N-SBR


















