ASAMMANIS.NEWS – FUZHOU, TIONGKOK – Perjalanan ke Tiongkok tidak sekadar menjadi pengalaman internasional bagi delegasi Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Forum The 4th Maritime Silk Road Youth Exchange Camp di Fuzhou, Fujian, 24–28 Agustus 2026, justru membuka ruang belajar tentang bagaimana kegigihan, integritas, jejaring, dan kecintaan terhadap daerah asal dapat menjadi kekuatan dalam membangun usaha.
Salah satu delegasi yang membawa pengalaman tersebut pulang ke Maluku adalah Prof. Dr. Fransina Latumahina, Sekretaris DPD GAMKI Maluku. Selain mewakili GAMKI Maluku, Latumahina juga dikenal sebagai akademisi Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon sekaligus pelaku usaha di bidang fashion dan wastra.
Menurut Latumahina, kunjungan ke Fuzhou memberikan perspektif baru tentang bagaimana masyarakat dan pengusaha di Tiongkok membangun usaha dengan ketekunan dan integritas.
“Saya belajar banyak tentang kegigihan usaha, tentang integritas diri untuk maju dan berkembang dari keberhasilan pengusaha di Cina. Ini menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk mengembangkan diri menjadi pengusaha yang handal, khususnya di bidang fashion dan wastra yang sedang saya geluti saat ini di Maluku,” kata Latumahina kepada media ini via WhatsApp, Senin (31/08/26).
Ia menilai pengalaman tersebut relevan untuk dikembangkan di Maluku, terutama dalam mengangkat potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi. Kekayaan budaya dan wastra Maluku, menurutnya, memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui inovasi, kreativitas, serta jejaring pasar yang lebih luas.
Bangun Jejaring Bisnis Lintas Negara
Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, mengatakan keikutsertaan 19 delegasi GAMKI dari berbagai daerah di Indonesia menjadi momentum penting untuk membangun relasi dengan pelaku usaha, organisasi kepemudaan, maupun mitra strategis di Tiongkok.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya berbicara tentang bisnis, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai sejarah panjang hubungan Indonesia dan Tiongkok serta pentingnya aspek hukum dalam menopang keberlangsungan usaha.
“Ini merupakan momentum berharga untuk menjalin relasi dengan pengusaha Tiongkok maupun Indonesia. Delegasi GAMKI juga belajar tentang kuatnya sejarah hubungan kedua negara serta pentingnya pemahaman aspek hukum dalam menopang bisnis,” tegas Sahat.
Sebanyak 19 delegasi GAMKI yang mengikuti kegiatan tersebut berasal dari berbagai tingkatan organisasi, mulai dari Dewan Pimpinan Pusat, daerah hingga cabang, dengan keterwakilan dari berbagai wilayah Indonesia, dari Medan hingga Merauke.
Belajar dari Kemajuan Fujian
Selama berada di Fuzhou, delegasi GAMKI mengikuti sejumlah agenda yang mempertemukan mereka dengan berbagai unsur pemuda, akademisi, organisasi dan dunia usaha.
Rangkaian kegiatan dibuka oleh Chairman of Fuzhou Youth Federation Lin Dun, First Vice Chairman of Perkumpulan Fuqing Indonesia Wang Yuzhong, President of Fuyao University of Science and Technology Wang Shugio, serta perwakilan pemuda Tionghoa perantauan dan mahasiswa Central University of Finance and Economics Chen Han.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Fuzhou Youth Federation, Perkumpulan Fuqing Indonesia dan Australian Fuqing Association.
Delegasi GAMKI juga mengunjungi sejumlah lokasi penting, antara lain Fuzhou Urban Planning Exhibition Hall, Liangcuo Historical and Cultural District, kawasan industri Fuqing, Liem Sioe Liong Memorial Hall, kawasan kota tua Three Lanes and Seven Alleys, hingga Maritime Silk Road Legal Service Zone.
Bagi delegasi, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sejarah, kebudayaan, industri, pendidikan, hukum dan jaringan diaspora dapat berjalan beriringan dalam mendorong pertumbuhan suatu daerah.
Diaspora dan Kekuatan Membangun Kampung Halaman
Sekretaris Umum DPP GAMKI, Alan Singkali, mengatakan salah satu pelajaran penting yang diperoleh dari perjalanan tersebut adalah kuatnya perhatian masyarakat perantauan asal Fujian terhadap kampung halaman mereka.
Ia mencontohkan sejumlah pengusaha asal Fujian yang sukses di Indonesia, seperti Liem Sioe Liong, Tahir, Djuhar Sutanto dan The Ning King, yang pada era 1990-an turut berinvestasi di tanah leluhur mereka.
“Selama di Fujian ini kami belajar betapa para perantau di Tiongkok sangat hormat dan memperhatikan kampung halamannya. Pada tahun 1990-an, perantau asal Fujian yang sukses di Indonesia seperti Liem Sioe Liong, Tahir, Djuhar Sutanto, The Ning King dan lainnya bahu-membahu berinvestasi ke tanah leluhurnya,” jelas Alan.
Menurutnya, arus investasi tersebut ikut mendorong perkembangan ekonomi Fujian. Bahkan, kemajuan tersebut kemudian menarik perusahaan-perusahaan besar dari Singapura untuk mengambil langkah serupa.
“Akibatnya, Fujian menjadi maju seperti sekarang dan kemudian turut membantu perekonomian Indonesia dengan melakukan investasi di berbagai kawasan industri,” imbuhnya.
Bagi GAMKI, pengalaman di Fujian menjadi lebih dari sekadar perjalanan pemuda ke luar negeri. Ada pelajaran tentang bagaimana jejaring, kewirausahaan, diaspora, pendidikan, budaya dan kecintaan terhadap daerah asal dapat menjadi modal penting untuk membangun masa depan.
Bagi Maluku, pengalaman tersebut juga menjadi inspirasi untuk melihat potensi daerah bukan hanya sebagai kekayaan budaya, tetapi sebagai kekuatan ekonomi yang dapat dikembangkan melalui inovasi dan jaringan yang lebih luas. (AM.N-MS)



















