ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus mempercepat transformasi sektor energi melalui pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) serta implementasi Program Mandatori Biofuel B-50. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di tengah meningkatnya ketidakpastian energi global.
Upaya tersebut diperkuat melalui kerja sama Indonesia dan Jerman, khususnya dalam pengembangan energi terbarukan, modernisasi jaringan listrik, serta peningkatan investasi di sektor energi hijau.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyampaikan hal tersebut dalam forum Indonesia Sustainable Energy Week (ISEW) yang mempertemukan pemimpin kedua negara, pelaku industri, inovator, dan para pakar energi internasional.
Yuliot mengatakan, dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan potensi gangguan terhadap jalur transit minyak utama melalui Selat Hormuz, perlu menjadi perhatian serius bagi Indonesia.
Menurutnya, gangguan terhadap rantai pasok energi global dapat berdampak terhadap harga dan ketersediaan energi, sekaligus meningkatkan biaya logistik. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi mendorong inflasi, meningkatkan tekanan terhadap fiskal negara akibat kebutuhan subsidi energi, serta memengaruhi daya beli masyarakat.
Karena itu, pemerintah mendorong percepatan diversifikasi sumber energi dengan meningkatkan pemanfaatan potensi EBT yang dimiliki Indonesia.
Pemerintah menargetkan kontribusi EBT dalam bauran energi nasional mencapai 18-21 persen pada 2026. Indonesia sendiri memiliki potensi EBT yang sangat besar, mencapai sekitar 3.687 gigawatt (GW).
Potensi tersebut terdiri atas energi surya sebesar 3.294 GW, tenaga air 95 GW, energi angin 155 GW, energi laut 63 GW, bioenergi 57 GW, serta panas bumi sekitar 24 GW.
Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih sangat rendah. Yuliot mencatat kapasitas EBT yang telah dimanfaatkan saat ini baru mencapai 16,278 GW atau kurang dari 0,5 persen dari total potensi nasional.
“Tantangan di hadapan kita memang tidak kecil, namun dengan keahlian kolektif dan komitmen yang teguh, saya yakin kita mampu membuka peluang-peluang baru, memperkuat ketahanan energi nasional, serta memberikan kontribusi nyata bagi masa depan,” ujar Yuliot.
B-50 Jadi Instrumen Ketahanan Energi
Selain mengembangkan EBT, pemerintah juga memperkuat ketahanan energi melalui Program Mandatori Biofuel B-50 yang mulai diberlakukan pada 1 Juli 2026.
Program B-50 merupakan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dengan komposisi biodiesel sebesar 50 persen yang dicampurkan dengan bahan bakar diesel.
Pemerintah memproyeksikan implementasi B-50 dapat memberikan sejumlah manfaat ekonomi dan lingkungan. Program tersebut diperkirakan mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun, menciptakan nilai tambah industri crude palm oil (CPO) sekitar Rp23,5 triliun, serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja.
Dari sisi lingkungan, implementasi B-50 juga diproyeksikan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 44,5 juta ton CO2.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya domestik.
Indonesia-Jerman Perkuat Investasi Energi Hijau
Percepatan transformasi energi Indonesia turut mendapatkan dukungan melalui penguatan kerja sama dengan Jerman.
Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, Reem Alabali Radovan, mengatakan Jerman berkomitmen memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia, terutama melalui peningkatan investasi swasta di sektor energi terbarukan dan pembangunan jaringan listrik.
“Dalam beberapa tahun mendatang, kami ingin memperluas kerja sama ekonomi dengan Indonesia secara terarah dan memperkuat investasi swasta, khususnya dalam energi terbarukan dan perluasan jaringan listrik,” kata Reem.
Kerja sama energi Indonesia-Jerman yang didukung Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) serta International Climate Initiative (IKI) telah mencatat komitmen dukungan kumulatif lebih dari 2,3 miliar euro.
Dukungan tersebut mencakup bantuan teknis, peningkatan kapasitas, hingga investasi modal untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission sektor energi pada 2060 serta implementasi peta jalan Just Energy Transition Partnership (JETP).
Kolaborasi kedua negara juga diperluas ke sektor perdagangan dan investasi industri hijau, penyelesaian perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA), serta peluang investasi pada ekosistem kendaraan listrik, industri semikonduktor, pengolahan mineral kritis, dan pembangunan jaringan listrik pintar atau smart grid.
Penguatan kemitraan Indonesia-Jerman tersebut diharapkan mampu mempercepat optimalisasi potensi energi domestik sekaligus membuka ruang investasi dan transfer teknologi.
Pada akhirnya, transformasi tersebut diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong terbentuknya sistem energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan rendah emisi. (AM.N-SBR)


















