ASAMMANIS.NEWS – PURWOREJO – Kebahagiaan terpancar dari wajah Markamah (63), warga Dusun Krembeng, Desa Hadimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, saat rumahnya untuk pertama kali dialiri listrik. Momen bersejarah itu terjadi ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia didampingi Bupati Purworejo Yuli Hastuti secara simbolis menyalakan saklar listrik di kediamannya, Jumat (19/6).
Bagi Markamah, kehadiran listrik bukan sekadar menyalakan lampu di rumahnya. Akses listrik tersebut menjadi simbol perubahan dalam kehidupan sehari-hari keluarganya setelah bertahun-tahun belum menikmati sambungan listrik. Aliran listrik itu diperoleh melalui Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL), yang ditujukan bagi masyarakat kurang mampu yang belum memiliki akses listrik.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa program tersebut merupakan wujud komitmen pemerintah dalam memastikan seluruh masyarakat Indonesia memperoleh akses energi yang adil dan merata, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Sesuai perintah Bapak Presiden Prabowo untuk menyediakan akses penerangan bagi seluruh rakyat Indonesia, maka Kementerian ESDM terus menghadirkan akses energi listrik bagi masyarakat tanpa terkecuali karena setiap warga negara mempunyai hak yang sama. Penyediaan akses penerangan ini juga merupakan wujud kehadiran negara bagi masyarakat yang masih mengalami kesulitan mendapatkan akses listrik,” ujar Bahlil.
Menurutnya, listrik merupakan infrastruktur dasar yang memiliki dampak besar terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Selain mendukung aktivitas rumah tangga, keberadaan listrik juga membuka peluang ekonomi, memperluas akses pendidikan, serta mendukung pemanfaatan teknologi dan informasi.
“Saya lahir dan tumbuh di kampung yang belum memiliki listrik. Karena itu, saya memahami betul pentingnya akses listrik bagi masyarakat. Bagaimana anak-anak dapat belajar dengan baik, mengakses informasi, dan memanfaatkan teknologi jika belum tersedia listrik. Ini merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara,” katanya.
Bahlil menambahkan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan layanan listrik hingga ke wilayah yang secara ekonomi belum menarik bagi investasi kelistrikan. Kehadiran negara menjadi penting untuk memastikan masyarakat di daerah terpencil tetap mendapatkan hak yang sama atas akses energi.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri ESDM juga menyerahkan token listrik kepada salah satu penerima bantuan sebagai bagian dari simbolisasi penyalaan sambungan listrik perdana.
Program Listrik Desa (Lisdes) dan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) merupakan upaya pemerintah bersama PT PLN (Persero) untuk memperluas akses listrik hingga ke daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan kelistrikan. Program ini menyasar masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil, terisolasi, dan daerah yang belum menikmati layanan listrik PLN.
Hingga tahun 2025, Program Lisdes telah terealisasi di 1.403 lokasi yang tersebar dari Aceh hingga Papua Selatan. Sementara itu, Program BPBL telah menghadirkan sambungan listrik bagi 220.845 rumah tangga kurang mampu di seluruh Indonesia, termasuk 19.161 rumah tangga di Provinsi Jawa Tengah.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati akses listrik yang andal dan berkelanjutan sebagai fondasi peningkatan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan nasional. (AM.N-SBR)

















