ASAMMANIS.NEWS – Satu tahun adalah waktu yang singkat dalam hitungan periodesasi kepemimpinan daerah, tetapi cukup untuk membaca arah, merasakan gaya, dan menilai fondasi sebuah kepemimpinan.
Di Maluku, satu tahun kepemimpinan LAWAMENA, duet Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, menjadi fase penting untuk menakar harapan sekaligus menginventarisasi pekerjaan rumah yang belum selesai.
LAWAMENA lahir dari ekspektasi besar rakyat yang menghendaki adanya perubahan. Maluku bukan sekadar hamparan gugusan pulau-pulau, tetapi wilayah dengan tantangan struktural yang kompleks; masalah disparitas, konektivitas antar-pulau yang belum merata, biaya logistik yang tinggi, kemiskinan dan pengangguran yang masih membayangi, serta kualitas layanan pendidikan dan kesehatan yang perlu digenjot lebih serius.
Dalam konteks itu, kepemimpinan bukan hanya soal visi, tetapi tentang konsistensi mengeksekusi dan keberanian menembus kebuntuan lama. Maluku butuh akselerasi dan lompatan besar untuk mengejar berbagai ketertinggalan.
Satu tahun ini, publik mulai membaca pola. Ada upaya membangun komunikasi dengan pusat, menguatkan konsolidasi birokrasi melalui pendekatan meritokrasi, serta membangun kepercayaan publik bahwa Maluku tidak boleh terus berada di pinggiran pembangunan nasional. Namun rakyat Maluku adalah rakyat yang kritis. Rakyat tahu bahwa romantisme visi tanpa percepatan kerja yang nyata akan segera kehilangan energi politiknya.
Pekerjaan rumah pertama adalah ekonomi riil rakyat. Maluku memiliki kekayaan laut yang luar biasa, tetapi nilai tambahnya belum sepenuhnya berkontribusi bagi pendapatan asli daerah. Hilirisasi sektor perikanan dan penguatan industri pengolahan harus menjadi prioritas, bukan lagi sekadar wacana. Demikian pula sektor pertanian, perkebunan, dan UMKM lokal yang membutuhkan akses permodalan, pasar, dan pendampingan serius. LAWAMENA ditantang untuk memastikan bahwa pertumbuhan bukan sekadar angka-angka statistik, tetapi terasa di dapur-dapur keluarga.
Pekerjaan rumah kedua adalah infrastruktur dan konektivitas. Provinsi kepulauan membutuhkan pendekatan yang berbeda dari provinsi kontinental atau daratan. Pelabuhan, transportasi laut yang terjadwal dan terjangkau, serta digitalisasi layanan publik menjadi kunci agar jarak geografis tidak lagi berarti jarak kesejahteraan. Tanpa itu, ketimpangan antarwilayah akan terus menjadi luka lama yang tak kunjung sembuh.
Pekerjaan rumah ketiga adalah tata kelola pemerintahan. Reformasi birokrasi harus berjalan beriringan dengan penguatan integritas dan meritokrasi. Kepemimpinan daerah hari ini tidak cukup hanya responsif, ia harus adaptif, transparan, dan akuntabel. Rakyat ingin melihat pemerintahan yang cepat mengambil keputusan, tidak terjebak dalam tarik-menarik kepentingan, dan berani memotong rantai praktik lama yang menghambat kemajuan.
Di tengah berbagai pekerjaan rumah itu, ada satu dimensi yang juga penting yakni membangun optimisme kolektif. Kepemimpinan bukan hanya tentang kebijakan dan program, tetapi tentang kemampuan menanamkan rasa percaya diri bahwa Maluku bisa bangkit dan melompat tinggi.
Selama ini, narasi tentang Maluku kerap berkutat pada ketertinggalan dan keterbatasan, belum lagi soal keadilan fiskal. LAWAMENA memiliki peluang untuk membalik narasi itu, mendorong semangat bahwa sebagai provinsi kepulauan, Maluku justru memiliki keunggulan komparatif dan strategis di sektor kelautan, pariwisata, dan ekonomi biru yang jika dikelola serius dapat menjadi mesin pertumbuhan baru.
Selain itu, kepemimpinan satu tahun ini juga menjadi momentum memperkuat kohesi sosial. Maluku memiliki sejarah panjang terkait dinamika sosial yang telah dilewati dengan kedewasaan. Stabilitas dan kondusifitas daerah adalah modal utama pembangunan.
Karena itu, duet kepemimpinan ini diharapkan terus merawat ruang dialogis, menjaga keseimbangan representasi, serta memastikan bahwa kebijakan pembangunan menyentuh seluruh kabupaten/kota tanpa kecuali. Rasa keadilan wilayah akan menjadi fondasi penting bagi kepercayaan publik.
Namun di atas semua itu, ada satu harapan yang tak kalah penting, yakni harmoni kepemimpinan. Gubernur dan Wakil Gubernur bukan dua pusat matahari yang saling bersaing memancarkan cahaya. Ibarat dua sisi mata uang, berbeda peran namun tak terpisahkan. Saling melengkapi dan hanya bermakna utuh ketika berjalan dalam satu kesatuan kepemimpinan. Keduanya harus bergerak bersinergi dalam satu frekuensi.
Dalam sistem pemerintahan, Gubernur dan Wakil Gubernur adalah satu kesatuan mandat rakyat. Isu-isu perpecahan, sekecil apa pun, bisa menjadi distraksi yang mahal. Rakyat Maluku tentu tidak ingin energi kepemimpinan habis untuk merespons rumor, friksi internal, atau ego sektoral.
Harmoni bukan berarti tanpa perbedaan pandangan. Justru dalam perbedaan itulah lahir kebijakan yang matang. Tetapi perbedaan harus diselesaikan di ruang internal, bukan dipertontonkan sebagai ketegangan politik. LAWAMENA diharapkan menjadi contoh bahwa kematangan kepemimpinan diukur dari kemampuan menyatukan, bukan mengedepankan siapa paling dominan.
Satu tahun adalah fondasi. Empat tahun berikutnya adalah ujian konsistensi. Rakyat Maluku tidak hanya menunggu janji yang ditepati, tetapi juga keberanian untuk melompat lebih jauh. Rakyat berharap duet ini mampu mengakselerasi pembangunan, memperkuat rasa keadilan antarwilayah, dan membangun kebanggaan kolektif bahwa Maluku bisa berdiri sejajar dengan provinsi lain.
Pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling sering berbicara, tetapi siapa yang paling nyata bekerja. LAWAMENA memiliki kesempatan untuk menorehkan babak baru dalam sejarah perjalanan Maluku. Babak tentang kepemimpinan yang solid, visioner, dan berpihak pada rakyat.
Jika harmoni tetap terjaga dan pekerjaan rumah dikerjakan dengan kesungguhan, maka satu tahun pertama ini akan dikenang bukan sebagai fase uji coba, melainkan sebagai awal dari lompatan besar Maluku menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Sebagaimana frasa LAWAMENA secara harfiah dan filosofis berarti “maju ke depan” atau “maju terus”, rakyat berharap Gubernur dan Wakil Gubernur bisa berdiri tegak dalam satu barisan kepemimpinan, menyudahi segala isu keretakan dan disharmoni, karena harapan dan masa depan daerah ini kini dititipkan sepenuhnya di pundak keduanya. Tabea! AM.N-SBR




















