ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Pembentukan Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto akan menjadi penentu arah kekuasaan negara dalam lima tahun ke depan. Tantangan yang dihadapi tidak ringan: perlambatan ekonomi global, tuntutan percepatan pembangunan, serta kebutuhan menjaga stabilitas nasional. Dalam situasi seperti ini, Presiden Prabowo membutuhkan figur yang berpengalaman, teruji, dan memahami jantung kekuasaan kebijakan nasional. Salah satu nama yang patut mendapat perhatian serius adalah Febry Calvin Tetelepta, mantan Deputi I Kantor Staf Presiden (KSP).
Sebagai mantan Deputi I KSP yang membidangi infrastruktur, energi, dan investasi, Febry berada di posisi strategis dalam mengawal langsung program prioritas presiden. Ia bukan sekadar pelaksana kebijakan, tetapi bagian dari arsitek pengendalian kebijakan nasional, memastikan proyek strategis negara berjalan tepat waktu, tepat sasaran, dan tidak tersandera oleh ego sektoral maupun kepentingan politik jangka pendek.
Pengalaman Febry di KSP menjadikannya figur yang siap pakai. Ia memahami bagaimana negara bekerja dari dalam mulai dari koordinasi lintas kementerian, relasi pusat-daerah, hingga interaksi dengan dunia usaha dan investor. Modal pengalaman ini sangat krusial bagi pemerintahan Prabowo yang mengusung agenda percepatan dan efisiensi. Negara tidak punya kemewahan waktu untuk belajar dari nol.
Di tengah dinamika politik pascapemilu, Presiden Prabowo dihadapkan pada pilihan besar: membentuk kabinet berbasis kompromi politik atau kabinet berbasis kapasitas. Merekrut figur seperti Febry Calvin Tetelepta akan menjadi sinyal kuat bahwa Kabinet Merah Putih adalah kabinet kerja, bukan sekadar kabinet balas jasa.
Sebagai mantan Deputi I KSP, Febry telah terbukti bekerja dalam tekanan tinggi, mengelola isu strategis, dan menghadapi persoalan lapangan dengan pendekatan tegas namun rasional.
Lebih dari itu, Febry memahami pentingnya keberlanjutan pembangunan lintas pemerintahan. Ia tidak membawa agenda personal atau romantisme rezim, melainkan perspektif teknokratis yang berorientasi pada kepentingan negara.
Inilah kualitas penting agar agenda besar Presiden Prabowo mulai dari kemandirian energi, penguatan infrastruktur, hingga peningkatan daya saing investasi dapat berjalan stabil dan terukur.
Merekrut Febry Calvin Tetelepta ke dalam Kabinet Merah Putih bukan berarti mempertahankan status quo, melainkan memastikan transisi kekuasaan berjalan efektif tanpa mengorbankan kinerja negara. Pemerintahan kuat bukanlah pemerintahan yang mengganti semua orang, melainkan yang mampu memilih figur tepat untuk posisi strategis.
Sebagai mantan Deputi I KSP, Febry Calvin Tetelepta memiliki rekam jejak, kapasitas, dan pemahaman sistem yang relevan dengan kebutuhan pemerintahan Presiden Prabowo. Jika Kabinet Merah Putih ingin dikenang sebagai kabinet yang bekerja cepat, disiplin, dan berorientasi hasil, maka nama Febry Calvin Tetelepta layak masuk dalam daftar figur strategis yang direkrut bukan karena kompromi politik, tetapi karena kepentingan negara. ***


















