ASAMMANIS.NEWS – JAKARTA – Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) di bawah kepemimpinan Sujahri Somar menjadi momentum peneguhan arah perjuangan organisasi sebagai gerakan mahasiswa ideologis. 15/01/2026.
Dalam pidato pengukuhan bertajuk “Sebuah Refleksi tentang Menyulam Persatuan”, Sujahri menegaskan bahwa GMNI sejak awal berdiri tidak dibangun atas dasar keseragaman pandangan maupun klaim kebenaran tunggal.
Menurut Sujahri, GMNI lahir dan tumbuh dari perbedaan pemikiran yang dipersatukan oleh cita-cita besar perjuangan bangsa, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan berkepribadian. Karena itu, persatuan harus dimaknai sebagai kesadaran ideologis dan kedewasaan sejarah, bukan sebagai upaya meniadakan perbedaan.
“Persatuan bukanlah penghapusan perbedaan pikiran dan tafsir, melainkan keberanian untuk duduk bersama dengan kesadaran ideologis dan tanggung jawab sejarah,” ujar Sujahri dalam pidatonya.
Ia menggambarkan persatuan sebagai sebuah proses “menyulam”, yakni upaya merajut kebersamaan secara perlahan, satu demi satu, dengan kesabaran, kejernihan berpikir, dan ketulusan dalam menjaga organisasi sebagai rumah bersama.
Lebih lanjut, Sujahri menegaskan bahwa kepengurusan DPP GMNI yang dikukuhkan bukanlah alat kekuasaan maupun representasi kemenangan kelompok tertentu. Para pengurus, kata dia, memiliki mandat utama sebagai penjaga persatuan dan martabat organisasi, sekaligus penanggung jawab kesinambungan ideologi Marhaenisme dalam tubuh GMNI.
Dalam pidatonya, Sujahri juga menegaskan penolakan GMNI terhadap politik emosi, praktik saling menegasikan, serta konflik internal yang berlarut-larut. Ia menekankan bahwa ideologi tidak boleh direduksi menjadi alat untuk menyerang sesama kader, melainkan harus berfungsi sebagai kompas perjuangan dalam membela kepentingan rakyat dan bangsa.
Momentum pengukuhan tersebut, lanjut Sujahri, menjadi ajakan terbuka bagi seluruh kader GMNI di berbagai daerah untuk kembali menempatkan kepentingan organisasi di atas ego dan ambisi pribadi. Ia menilai hanya dengan persatuan, GMNI dapat kembali berperan sebagai rumah ideologis yang teduh, ruang kaderisasi yang matang, serta kekuatan mahasiswa yang relevan dengan tantangan zaman.
Pidato ditutup dengan penegasan komitmen persatuan dan martabat organisasi. “GMNI bersatu, GMNI bermartabat, GMNI untuk Indonesia Raya,” tegas Sujahri. AM.N-SBR


















